Sebuah tinjauan baru dari Imperial College London menyoroti bagaimana perubahan iklim memperburuk polusi plastik, mendesak aksi global untuk mengatasi krisis yang saling terkait ini. Para ahli menganjurkan pengurangan produksi plastik, penguatan upaya daur ulang, dan penetapan standar plastik internasional.
Para peneliti dari Imperial College London telah mengeluarkan seruan keras untuk memerangi meningkatnya ancaman yang ditimbulkan oleh polusi plastik dan perubahan iklim yang saling terkait. Dalam sebuah tinjauan komprehensif diterbitkan Dalam jurnal Frontiers in Science, para ilmuwan ini menggarisbawahi perlunya upaya internasional segera untuk membendung banjir mikroplastik yang mencemari lingkungan.
"Polusi plastik dan iklim adalah krisis bersama yang saling memperburuk. Keduanya juga memiliki asal-usul — dan solusi — yang sama," ujar penulis utama Frank Kelly, seorang profesor di Sekolah Kesehatan Masyarakat Imperial College, dalam sebuah rilis berita. "Kita sangat membutuhkan pendekatan internasional yang terkoordinasi untuk menghentikan penumpukan plastik akhir masa pakai di lingkungan."
Mikroplastik Meningkat
Studi ini menyoroti bahwa pemanasan suhu, peningkatan kelembapan, dan paparan sinar UV yang lebih tinggi mempercepat penguraian plastik menjadi mikroplastik — pecahan plastik kecil yang tersebar luas. Faktor iklim seperti badai ekstrem, banjir, dan angin semakin memperparah penyebaran dan fragmentasi sampah plastik, yang kini mengendap di tempat pembuangan sampah, lautan, dan bahkan atmosfer.
Sejak tahun 1950, produksi plastik tahunan global telah melonjak 200 kali lipat, dan sekitar 35% dari produksi ini adalah plastik sekali pakai. Para penulis menekankan urgensi untuk menghilangkan plastik sekali pakai yang tidak esensial, membatasi produksi plastik baru, dan merumuskan standar global untuk daur ulang plastik.
Ancaman Ekologis
Dampak ekologis dari polusi plastik yang tidak terkendali sangatlah besar. Mikroplastik mengganggu siklus nutrisi dalam ekosistem perairan, melemahkan kesehatan tanah dan hasil panen, serta berdampak buruk pada pakan dan reproduksi hewan. Selain itu, partikel-partikel kecil ini dapat bertindak sebagai pembawa atau "kuda Troya" bagi kontaminan lain seperti logam dan pestisida.
"Ada kemungkinan mikroplastik—yang sudah ada di setiap sudut planet ini—akan berdampak lebih besar pada spesies tertentu seiring waktu. Krisis iklim dan polusi plastik, yang disebabkan oleh ketergantungan masyarakat yang berlebihan pada bahan bakar fosil, dapat memperburuk lingkungan yang sudah tertekan dalam waktu dekat," tambah rekan penulis Stephanie Wright, seorang profesor madya di Fakultas Kesehatan Masyarakat Imperial.
Predator Puncak yang Rentan
Penelitian mengungkapkan bahwa organisme laut, termasuk karang, siput laut, dan ikan, sangat menderita ketika terpapar kenaikan suhu dan mikroplastik. Dampaknya merambat ke rantai makanan, berdampak pada predator puncak seperti orca, yang dapat mengakumulasi mikroplastik dalam jumlah besar sepanjang hidup mereka.
“Predator puncak seperti orca bisa menjadi tanda bahaya, karena mereka mungkin sangat rentan terhadap dampak gabungan perubahan iklim dan polusi plastik,” tambah rekan penulis Guy Woodward, seorang profesor ekologi di Departemen Ilmu Hayati Imperial.
Call to Action
Temuan tinjauan ini memperkuat kebutuhan mendesak akan perubahan sistemik dalam cara masyarakat menangani plastik.
"Ekonomi plastik sirkular itu ideal. Ekonomi ini harus melampaui pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang, tetapi juga mencakup perancangan ulang, pemikiran ulang, penolakan, eliminasi, inovasi, dan sirkulasi — beralih dari model linear ambil-buat-buang yang ada saat ini," tambah rekan penulis Julia Fussell, seorang peneliti senior di Sekolah Kesehatan Masyarakat Imperial.
Untuk mengurangi krisis ini, para peneliti menganjurkan perubahan sistemik, termasuk mengurangi produksi plastik di sumbernya, menciptakan kebijakan global yang terkoordinasi seperti Perjanjian Plastik Global PBB, dan mendorong inovasi yang bertanggung jawab dan berbasis bukti dalam pengelolaan material dan limbah, menurut Kelly.
"Masa depan tidak akan bebas dari plastik, tetapi kita dapat mencoba membatasi polusi mikroplastik lebih lanjut," tambah Wright. "Kita perlu bertindak sekarang, karena plastik yang dibuang hari ini mengancam gangguan ekosistem berskala global di masa depan."
Sumber: Imperial College London

