Para ilmuwan di NTU Singapura telah memelopori jalur perakitan serangga cyborg otomatis pertama di dunia, yang secara signifikan mengurangi waktu produksi dan membuka jalan bagi penerapan skala besar dalam skenario tanggap bencana.
Dalam sebuah kemajuan yang luar biasa, tim ilmuwan di Nanyang Technological University, Singapura (NTU Singapura) yang dipimpin oleh Hirotaka Sato telah menciptakan lini perakitan otomatis pertama di dunia untuk serangga cyborg. Sistem perintis ini, yang dijelaskan secara rinci dalam sebuah makalah diterbitkan di Nature Communications, menggunakan robotika bertenaga AI untuk memasang ransel elektronik mini secara cepat dan efisien ke kecoak Madagaskar yang mendesis, mengubahnya menjadi robot hibrida serangga.
Pendekatan inovatif ini memangkas waktu persiapan dari lebih dari satu jam menjadi hanya 1 menit dan 8 detik per serangga, menjadikannya sekitar 60 kali lebih cepat daripada metode tradisional yang mengandalkan operator terampil.
Sistem ini menunjukkan efisiensi yang belum pernah terjadi sebelumnya, menyelesaikan perakitan empat serangga dalam waktu kurang dari 8 menit, menjadikannya sekitar 30 kali lebih cepat daripada proses manual.
"Inovasi kami membuat impian untuk mengerahkan serangga cyborg dalam jumlah besar dalam skenario kehidupan nyata menjadi jauh lebih praktis," ujar Sato, seorang profesor di Sekolah Teknik Mesin dan Dirgantara NTU Singapura, dalam sebuah rilis berita. "Persiapan manual memakan waktu dan sangat bergantung pada operator yang terampil. Dengan mengotomatiskan prosesnya, kami dapat memproduksi robot hibrida serangga dengan cepat dan konsisten. Hal ini akan memungkinkan kami untuk mempersiapkannya dalam jumlah besar, yang akan sangat penting dalam operasi yang sensitif terhadap waktu seperti pencarian dan penyelamatan pascabencana."
Cara Kerja Serangga Cyborg
Tidak seperti robot konvensional, serangga cyborg ini bergerak secara alami menggunakan anggota tubuh mereka, dipandu oleh rangsangan listrik lembut yang disalurkan melalui elektroda yang ditanamkan dan terhubung ke papan sirkuit ringan di punggung mereka.
Sistem perakitan robotik berteknologi AI menggunakan visi komputer dan algoritma khusus untuk menempatkan elektroda secara tepat, guna memastikan fungsionalitas yang optimal.
Para peneliti juga mengembangkan ransel generasi baru yang menstimulasi serangga secara lebih efisien, menggunakan voltase 25% lebih rendah daripada model sebelumnya sambil tetap mempertahankan kontrol gerakan yang tepat.
Peningkatan ini akan memperpanjang waktu operasional dan mengurangi risiko stimulasi berlebih. Selama uji laboratorium, serangga hibrida menunjukkan kemampuannya dengan melakukan putaran tajam dan penyesuaian kecepatan sesuai perintah.
Penggunaan di Dunia Nyata
Potensi penerapan serangga cyborg ini dalam skenario dunia nyata sangat besar, terutama di area di mana robot tradisional mungkin gagal.
Pada tanggal 30 Maret 2025, 10 serangga cyborg dikerahkan untuk pertama kalinya dalam misi kemanusiaan di Myanmar, bersama Pasukan Pertahanan Sipil Singapura (SCDF) selama Operasi Lionheart setelah gempa bumi dahsyat berkekuatan 7.7 skala Richter.
Hal ini menandai pengerahan lapangan pertama robot hibrida serangga dan penggunaan perdananya dalam operasi kemanusiaan, yang menunjukkan nilainya dalam menemukan korban selamat di tengah puing-puing bencana yang sulit dijangkau robot tradisional.
"Dengan pembelajaran dari penerapan lapangan kami, kini penting untuk menciptakan infrastruktur yang mendukung produksi dan penerapan massal," tambah Sato. "Lini perakitan kami adalah langkah pertama menuju tujuan tersebut, dan kami yakin ini akan membuka jalan bagi aplikasi cyborg yang lebih andal, seperti memeriksa struktur sipil besar untuk menemukan cacat."
Prospek masa depan
Sato, yang terkenal secara internasional atas karya perintisnya dalam serangga cyborg, membayangkan kemajuan signifikan dalam bidang teknologi ini.
Timnya bertujuan untuk menyempurnakan sistem perakitan saat ini dan berkolaborasi dengan mitra lokal untuk meningkatkan kelayakan industrinya.
Penelitian pionirnya sebelumnya telah dipuji dalam publikasi besar seperti “50 Penemuan Terbaik Tahun Ini” majalah TIME dan “10 Teknologi Baru” MIT Technology Review.

