Sebuah studi yang dipimpin oleh para peneliti Universitas George Mason mengungkap faktor sosial dan lingkungan yang berkontribusi terhadap "freshman 15" yang terkenal. Studi ini mengungkap pengaruh lingkungan makan dan makan bersama terhadap kebiasaan makan mahasiswa.
Saat mahasiswa baru menerima saran tentang cara menjalani kehidupan kampus, satu hal yang sering muncul: waspadalah terhadap "15 tahun ke atas untuk mahasiswa baru". Fenomena ini, di mana mahasiswa baru mengalami kenaikan berat badan, begitu meluas hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita rakyat kampus. Namun, apa sebenarnya yang mendorong tren ini?
Sebuah studi baru dari Universitas George Mason, diterbitkan dalam jurnal mHealth, berupaya memberikan kejelasan. Penelitian interdisipliner yang dipelopori oleh Y. Alicia Hong, seorang profesor di Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, menyoroti faktor-faktor sosial dan lingkungan yang menyebabkan peningkatan asupan makanan di kalangan mahasiswa, yang berkontribusi pada kenaikan berat badan yang terkenal buruk.
“Faktor sosial dan lingkungan merupakan penentu utama perilaku makan. Mahasiswa dipengaruhi oleh lingkungan makan, terutama dimana mereka makan dan siapa yang mereka makan denganPenelitian kami menemukan bahwa mereka mengonsumsi lebih banyak kalori saat makan berkelompok atau di tempat makan formal,” ujar Hong dalam siaran pers.
Selama empat minggu, para peserta menggunakan aplikasi seluler untuk mencatat kebiasaan makan harian, lingkungan, suasana hati, dan tingkat stres mereka. Data menunjukkan bahwa peserta cenderung makan lebih banyak di lingkungan sosial, seperti kantin atau restoran, dan lebih sedikit saat sendirian atau di rumah.
Menariknya, studi ini juga mengungkap bahwa mahasiswa seringkali salah menilai konsumsi makanan mereka. Asupan kalori yang dicatat aplikasi berbeda secara signifikan dari konsumsi yang mereka perkirakan sendiri. Selain itu, jenis kelamin dan kondisi emosional diidentifikasi sebagai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap perilaku makan ini.
"Perilaku makan mahasiswa itu kompleks, dengan faktor individu, interpersonal, dan lingkungan yang berinteraksi untuk memengaruhi asupan makanan. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya konteks dalam intervensi diet dan penggunaan perangkat digital untuk penilaian diet," tambah Hong.
Sumber: George Mason University

