Sebuah studi internasional besar menemukan bahwa kepercayaan pada AI kurang bergantung pada kinerja teknis dan lebih pada apakah orang merasa terhubung, dilibatkan, dan didukung saat menggunakannya. Hasil penelitian menunjukkan masa depan di mana desain dan tata kelola yang berpusat pada manusia menjadi kunci untuk membangun AI yang dapat dipercaya.
Kepercayaan pada kecerdasan buatan bukan hanya tentang seberapa baik teknologi tersebut bekerja. Ini juga tentang apakah orang merasa terhubung, didukung, dan dilibatkan ketika mereka menggunakannya.
Sebuah studi global baru yang dipimpin oleh para peneliti di Universitas Tampere di Finlandia menemukan bahwa sikap positif terhadap AI dan rasa keterkaitan saat menggunakan teknologi merupakan prediktor terkuat dan paling konsisten terhadap kepercayaan pada sistem AI dan perusahaan yang membangunnya.
Tim tersebut mengambil pendekatan sosio-psikologis, melihat melampaui kode dan algoritma ke kebutuhan dasar manusia. Mereka meneliti bagaimana perasaan keterhubungan, otonomi, dan kompetensi, bersama dengan sikap terhadap AI dan kepercayaan dalam menggunakannya, membentuk kesediaan orang untuk mempercayai AI.
Di 12 negara di enam benua, satu pola menonjol: orang-orang yang merasa lebih positif tentang AI dan lebih terhubung secara sosial saat menggunakan teknologi cenderung lebih mempercayai alat AI dan perusahaan yang digerakkan oleh AI. Sebaliknya, perasaan terampil secara teknis, memiliki kendali, atau sangat percaya diri dengan AI hanya penting dalam konteks nasional tertentu.
Penulis utama, Anica Cvetkovic, seorang peneliti doktoral di Universitas Tampere, menekankan betapa dalamnya AI kini terintegrasi ke dalam kehidupan sehari-hari.
βSeiring sistem AI semakin memediasi cara orang bekerja, berkomunikasi, dan mengakses informasi, kepercayaan bukan lagi hanya tentang apakah suatu teknologi berfungsi dengan benar,β katanya dalam siaran pers.
Studi ini menggunakan data survei dari 11,259 peserta pada tahun 2024, menjadikannya salah satu kajian paling komprehensif hingga saat ini tentang bagaimana kepercayaan terhadap AI berkembang di seluruh dunia. Temuan-temuan tersebut, diterbitkan dalam jurnal Perilaku & Teknologi Informasi, menyoroti bahwa kepercayaan adalah masalah sosial dan psikologis sekaligus masalah teknis.
Cvetkovic dan rekan-rekannya tidak hanya bertanya tentang AI secara abstrak. Mereka juga meneliti kepercayaan terhadap perusahaan teknologi besar, termasuk platform media sosial yang sangat bergantung pada AI. Fokus ganda ini menunjukkan betapa eratnya pandangan publik tentang perilaku perusahaan dan teknologi AI kini saling terkait.
Ketika orang berpikir tentang AI, mereka sering kali juga memikirkan perusahaan yang merancang dan menerapkannya, mulai dari mesin rekomendasi di media sosial hingga sistem otomatis yang membentuk berita, hiburan, atau layanan apa yang mereka lihat. Jika interaksi tersebut terasa adil, inklusif, dan penuh hormat, kepercayaan dapat tumbuh. Jika interaksi tersebut terasa buram, manipulatif, atau melemahkan, kepercayaan dapat terkikis dengan cepat.
Dengan melibatkan peserta dari berbagai wilayah dengan tingkat infrastruktur digital yang sangat berbeda dan norma budaya yang berbeda pula, penelitian ini juga menyoroti ketidaksetaraan global dalam pengembangan dan tata kelola AI. Pengalaman sehari-hari masyarakat dengan teknologi β apakah mereka merasa diberdayakan atau dikucilkan β tampaknya memainkan peran penting dalam membentuk kepercayaan.
Atte Oksanen, seorang profesor psikologi sosial di Universitas Tampere dan salah satu peneliti utama, menekankan betapa tingginya taruhan yang telah dipertaruhkan.
βKepercayaan pada kecerdasan buatan, dan khususnya pada perusahaan yang mengembangkan sistem ini, menjadi semakin penting,β katanya dalam siaran pers tersebut.
Oksanen menunjukkan bahwa AI kini menjadi hal sentral dalam pekerjaan, komunikasi, dan akses ke layanan-layanan penting, dan bahwa pergeseran geopolitik telah menimbulkan pertanyaan strategis bagi kawasan seperti Eropa.
βAI kini memengaruhi cara kita bekerja, berkomunikasi, dan mengakses layanan penting. Perubahan terkini dalam politik global juga telah menggarisbawahi perlunya Eropa untuk mengembangkan alternatif yang kuat dan andal sendiri. Oleh karena itu, memastikan pengembangan yang dapat dipercaya dan transparan bukan hanya prioritas teknologi, tetapi juga prioritas strategis bagi masyarakat kita,β katanya.
Hasil penelitian ini mendukung pendekatan yang berpusat pada manusia dan peka terhadap budaya dalam desain dan regulasi AI. Sekadar membuat sistem lebih akurat atau melatih pengguna agar lebih mampu secara teknis tidaklah cukup jika orang masih merasa terputus, tidak berdaya, atau diabaikan ketika berinteraksi dengan AI.
Sebaliknya, para peneliti berpendapat, para perancang dan pembuat kebijakan perlu fokus pada bagaimana sistem AI mendukung kebutuhan psikologis dasar manusia: Apakah pengguna merasa dihormati dan didengarkan? Apakah mereka memahami apa yang dilakukan sistem dan mengapa? Apakah mereka merasa bahwa AI bekerja bersama mereka, bukan hanya pada mereka?
Pertanyaan-pertanyaan ini sangat mendesak bagi mahasiswa dan profesional muda, yang semakin sering menjumpai AI di ruang kelas, lamaran pekerjaan, aplikasi kesehatan, dan platform media sosial. Jika pengalaman tersebut terasa inklusif dan mendukung, hal itu dapat membangun kepercayaan diri. Jika tidak, hal itu dapat memperdalam skeptisisme dan penolakan.
Oksanen menggarisbawahi bahwa kepercayaan harus didasarkan pada lebih dari sekadar kecepatan dan akurasi.
βJika AI ingin diterima sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari dan lembaga publik, kepercayaan harus dibangun berdasarkan lebih dari sekadar efisiensi. Memahami bagaimana orang berhubungan dengan AI β dan dengan perusahaan yang mengembangkannya β sangat penting untuk legitimasi masyarakat yang digerakkan oleh AI,β katanya.
Ke depan, temuan ini menunjukkan beberapa arah tindakan. Bagi pengembang, ini berarti melibatkan beragam pengguna sejak awal proses desain, menjelaskan sistem dengan jelas, dan memberi orang pilihan yang bermakna tentang bagaimana AI memengaruhi mereka. Bagi pembuat kebijakan, ini berarti merancang peraturan yang mendorong transparansi, akuntabilitas, dan keadilan, sambil mengakui bahwa konteks budaya itu penting.
Bagi universitas dan pendidik, studi ini menyoroti pentingnya mengajarkan tidak hanya keterampilan teknis, tetapi juga pemahaman kritis tentang bagaimana AI membentuk kehidupan sosial β dan bagaimana mengadvokasi sistem yang inklusif dan dapat dipercaya.
Seiring dengan terus menyebarnya AI ke hampir setiap sektor, penelitian ini menawarkan pesan yang jelas: membangun kepercayaan bukan hanya soal teknologi yang lebih baik. Ini tentang mengenali dan menghormati manusia di balik layar.
Sumber: Universitas Tampere
