Analisis menyeluruh terhadap kebijakan iklim di 43 negara ekonomi utama menemukan bahwa peraturan yang lebih ketat dan lebih tepat sasaran telah mengurangi miliaran ton karbon dioksida. Studi ini menawarkan peta jalan bagi pemerintah untuk mempercepat pengurangan emisi ketika dunia sangat membutuhkannya.
Menurut sebuah studi internasional baru yang penting, negara-negara yang menerapkan kebijakan iklim yang lebih ketat dan cerdas mengurangi polusi karbon secara signifikan lebih cepat daripada negara-negara yang tidak menerapkannya.
Dengan memanfaatkan kumpulan data kebijakan iklim terlengkap yang pernah dikumpulkan hingga saat ini, para peneliti dari Inggris, Jerman, Austria, dan Norwegia meneliti lebih dari 3,900 kebijakan iklim yang diadopsi sejak tahun 2000 di 43 negara ekonomi terkemuka. Secara bersama-sama, negara-negara tersebut menyumbang lebih dari tiga perempat emisi gas rumah kaca global.
Kesimpulan mereka: kebijakan iklim berhasil β dan bagaimana pemerintah merancang dan menargetkan kebijakan tersebut dapat secara dramatis mengubah seberapa cepat emisi menurun.
Dengan membandingkan dunia saat ini dengan skenario di mana tidak ada kebijakan iklim, tim memperkirakan bahwa lebih dari 3 miliar metrik ton karbon dioksida berhasil dihindari pada tahun 2022 saja. Jumlah tersebut kira-kira setara dengan emisi tahunan Uni Eropa.
Temuan ini secara langsung membantah anggapan bahwa undang-undang iklim sebagian besar hanya untuk formalitas, menurut penulis utama Charlie Wilson, seorang profesor energi dan perubahan iklim serta peneliti senior di Institut Perubahan Lingkungan Universitas Oxford.
βKebijakan iklim bukan sekadar tindakan simbolis; kebijakan tersebut berhasil. Negara-negara yang memfokuskan kebijakan di wilayah dengan emisi tertinggi menuai manfaat terbesar. Ini menunjukkan bahwa desain yang cermat dan fokus strategis benar-benar penting,β kata Wilson dalam siaran pers.
Penelitian, diterbitkan in Alam KomunikasiPenelitian ini mengkaji kebijakan iklim di berbagai sektor seperti energi, industri, transportasi, bangunan, pertanian, dan pengelolaan limbah di 43 negara OECD dan BRIICS antara tahun 2000 dan 2022. Para peneliti tidak hanya melacak berapa banyak kebijakan yang diadopsi setiap negara, tetapi juga seberapa ketat kebijakan tersebut, sektor mana yang menjadi target, dan jenis instrumen kebijakan apa yang digunakan.
Mereka kemudian menghubungkan portofolio kebijakan tersebut dengan perubahan intensitas emisi β jumlah karbon dioksida yang dilepaskan per unit produk domestik bruto. Negara-negara dengan kebijakan iklim yang lebih ketat mengurangi intensitas emisi lebih cepat daripada negara-negara dengan langkah-langkah yang lebih lemah atau lebih sedikit.
Menargetkan para pencemar terbesar
Salah satu pesan paling jelas dari analisis ini adalah bahwa ke mana kebijakan diarahkan sama pentingnya dengan berapa banyak kebijakan yang tercantum dalam undang-undang.
Kebijakan yang berfokus pada sektor-sektor penghasil emisi tinggi, terutama energi dan transportasi, memiliki dampak terbesar dalam mengurangi intensitas emisi. Hal ini mencakup langkah-langkah seperti penetapan harga karbon, standar bahan bakar, insentif energi terbarukan, dan regulasi terhadap pembangkit listrik dan industri berat.
Dengan kata lain, pemerintah mendapatkan dampak iklim terbesar ketika mereka memusatkan upaya mereka pada sektor-sektor yang paling banyak membakar bahan bakar fosil, daripada menyebarkan kebijakan secara tipis ke seluruh perekonomian.
Studi ini juga menyoroti pentingnya arahan jangka panjang. Negara-negara yang menetapkan target iklim yang jelas dan berlandaskan hukum β seperti tujuan emisi nol bersih β dan menciptakan kementerian atau lembaga khusus untuk mengawasi kemajuan, mendapatkan hasil yang lebih maksimal dari setiap kebijakan yang mereka adopsi.
Penulis utama bersama, Theo Arvanitopoulos, dari Universitas Cardiff dan London School of Economics, mencatat bahwa pilihan-pilihan kelembagaan tersebut penting dalam praktiknya, bukan hanya di atas kertas.
βTarget iklim jangka panjang dan kementerian khusus bukan hanya sekadar formalitas; hal itu meningkatkan dampak nyata dari kebijakan iklim. Analisis mendalam kami terhadap portofolio kebijakan yang besar menunjukkan bahwa hal tersebut memperkuat apa yang dapat dicapai pemerintah, terlepas dari meningkatnya perdebatan politik tentang efektivitasnya,β kata Arvanitopoulos dalam siaran pers tersebut.
Instrumen ekonomi menjadi panduan, tetapi tidak ada solusi tunggal.
Para peneliti juga membandingkan berbagai jenis instrumen kebijakan: alat ekonomi seperti pajak karbon dan sistem perdagangan emisi, langkah-langkah regulasi seperti standar efisiensi, dan pendekatan sukarela seperti kampanye informasi atau janji industri.
Mereka menemukan bahwa instrumen ekonomi, rata-rata, adalah yang paling efektif dalam mengurangi intensitas emisi. Tetapi ceritanya lebih kompleks daripada sekadar merekomendasikan satu jenis kebijakan untuk setiap negara.
Data menunjukkan bahwa negara-negara cenderung berkinerja terbaik ketika mereka mengandalkan apa yang sudah mereka ketahui cara mengimplementasikannya dengan baik, menurut penulis utama bersama Simon Bulian dari Universitas Heidelberg.
βStudi kami menunjukkan bahwa instrumen ekonomi paling efektif dalam mengurangi intensitas emisi, dibandingkan dengan pendekatan regulasi atau sukarela. Namun, temuan kami juga menunjukkan dampak positif dari tradisi kebijakan: negara-negara yang mengkhususkan diri dalam jenis instrumen tertentu (ekonomi atau regulasi) adalah yang paling sukses dalam mengurangi intensitas emisi. Instrumen ekonomi tidak selalu merupakan solusi yang cocok untuk semua situasi,β kata Bulian.
Hal itu menunjukkan bahwa pemerintah dapat membuat kemajuan lebih cepat dengan membangun kekuatan yang sudah ada β misalnya, dengan memperketat kerangka peraturan yang sudah mapan atau memperluas program berbasis pasar yang sukses β daripada mencoba meniru setiap kebijakan yang digunakan di tempat lain.
Kekuatan kerja sama
Studi ini juga menunjukkan manfaat kerja sama internasional. Keanggotaan dalam organisasi seperti Badan Energi Internasional atau Kementerian Energi Bersih dikaitkan dengan kebijakan iklim yang lebih efektif.
Lembaga-lembaga semacam itu membantu negara-negara berbagi praktik terbaik, mengoordinasikan standar, dan belajar dari keberhasilan serta kegagalan satu sama lain, yang dapat memperkuat dampak dari langkah-langkah nasional.
Bagi para mahasiswa, pembuat kebijakan, dan warga yang mengamati negosiasi iklim global, temuan ini menawarkan baik kepastian maupun tantangan.
Di satu sisi, mereka menunjukkan bahwa kebijakan iklim dalam dua dekade terakhir telah memberikan perbedaan yang terukur. Miliaran ton emisi telah dihindari, dan negara-negara yang telah menanggapi kebijakan iklim dengan serius telah menurunkan kurva intensitas emisi mereka lebih cepat.
Di sisi lain, emisi global masih terlalu tinggi untuk menjaga pemanasan global tetap dalam batas yang disepakati secara internasional, dan laju perubahan masih jauh dari apa yang menurut para ilmuwan dibutuhkan.
Wilson menekankan realitas ganda tersebut.
βStudi kami merupakan kabar baik bagi upaya kebijakan iklim sejauh ini: kebijakan tersebut berhasil. Namun, emisi masih terlalu tinggi sehingga kemajuannya belum cukup cepat. Tantangan sekarang adalah menggunakan apa yang telah kita pelajari untuk mempercepat kemajuan menuju iklim yang stabil,β katanya.
Peta jalan untuk apa yang berhasil
Bagi pemerintah, studi ini menawarkan peta jalan praktis: mengadopsi kebijakan yang lebih ketat, memfokuskannya pada sektor-sektor yang paling berpolusi, mendukungnya dengan target iklim jangka panjang yang jelas dan lembaga-lembaga yang kuat, serta terlibat aktif dalam kerja sama internasional.
Kumpulan data terbuka yang menjadi dasar penelitian ini β yang bersumber dari berbagai sumber termasuk basis data gas rumah kaca dan kebijakan Badan Energi Internasional β telah tersedia untuk umum, bersama dengan kode replikasi, untuk mendorong penelitian lebih lanjut dan transparansi.
Saat negara-negara merevisi rencana iklim mereka dalam beberapa tahun mendatang, para penulis berpendapat bahwa bukti dari dua dekade terakhir dapat membantu mereka menghindari metode coba-coba dan sebaliknya memperkuat apa yang telah terbukti berhasil.
Pesan yang ingin disampaikan, menurut mereka, adalah bahwa kebijakan iklim bukanlah sebuah latihan abstrak. Jika dirancang dan diimplementasikan dengan baik, kebijakan iklim akan mengubah cara perekonomian tumbuh, cara energi diproduksi dan digunakan, serta seberapa cepat dunia dapat bergerak menuju masa depan iklim yang lebih aman.
