Sebuah studi baru dari Iowa State University mengungkap bagaimana pendidikan memengaruhi tingkat dan stabilitas pernikahan. Pelajari apa yang ditemukan para peneliti tentang perubahan dinamika pernikahan di Amerika modern.
Sebuah studi terbaru oleh para peneliti di Iowa State University telah mengungkap wawasan menarik tentang bagaimana tingkat pendidikan memengaruhi tren pernikahan di Amerika Serikat. Seiring meningkatnya tingkat pendidikan nasional, tingkat pernikahan di Amerika juga menurun, menunjukkan bahwa gelar sarjana tidak hanya memengaruhi jalur karier tetapi juga pilihan hidup pribadi.
"Dalam penelitian kami, kami menemukan bahwa pendidikan tidak hanya mengubah resume seseorang β tetapi juga mengubah peluang, jadwal, dan ekspektasi mereka," ujar rekan penulis John V. Winters, seorang profesor ekonomi di Iowa State University, dalam siaran pers.
Bekerja sama dengan Kunwon Ahn, seorang peneliti asosiasi di Korea Labor Institute dan lulusan doktoral ekonomi dari Iowa State, Winters meneliti kumpulan data substansial yang mencakup periode 2006 hingga 2019 untuk mengurai kompleksitas seputar pendidikan dan pernikahan.
Tren dan Temuan
Para peneliti berfokus pada sampel besar lebih dari 8 juta orang dari Survei Komunitas Amerika, dengan menggabungkan variabel seperti tempat lahir, tahun lahir, dan leluhur yang dilaporkan sendiri.
Mereka menggunakan pendekatan unik dengan menggunakan pencapaian pendidikan ibu subjek sebagai proksi untuk menghindari varians individual yang dapat mengaburkan hasil.
Penelitian, diterbitkan dalam jurnal Education Economics, mengungkap beberapa temuan penting:
- Pendidikan dan Penundaan Pernikahan: Satu tahun tambahan pendidikan mengurangi kemungkinan menikah antara usia 25 hingga 34 tahun sekitar empat poin persentase.
- Stabilitas Pernikahan: Bagi individu berusia 45 hingga 54 tahun, pendidikan secara signifikan mengurangi risiko perceraian atau perpisahan, mengisyaratkan pernikahan yang lebih stabil di kalangan kelompok berpendidikan tinggi.
- Hidup Lajang Seumur Hidup: Pendidikan tambahan tampaknya sedikit meningkatkan kemungkinan untuk tidak pernah menikah pada usia 45 hingga 54 tahun.
βDari memperluas peluang karier hingga meningkatkan kemandirian, pendidikan membentuk kembali apa yang kita cari pada pasangan, serta kapan kita siap berkomitmen dan apakah kita ingin menikah atau tidak,β tambah Winters.
Implikasi Ekonomi dan Sosial
Penelitian ini juga menunjukkan implikasi ekonomi dan sosial yang lebih luas dari tren ini.
Sebelum tahun 1970, lebih dari 80% penduduk Amerika berusia 25 hingga 34 tahun menikah, tetapi pada tahun 2023, jumlahnya anjlok menjadi 38%, menurut data Biro Sensus AS. Meningkatnya jumlah penduduk Amerika yang meraih gelar sarjana tidak membuat pernikahan lebih mudah dicapai; justru, seringkali menundanya.
βSebuah studi tahun 2016 menemukan bahwa semakin besar utang kuliah seseorang, semakin kecil kemungkinan mereka untuk menikah,β tambah Winters.
Menariknya, penelitian ini juga menyoroti bahwa pendidikan mengurangi manfaat ekonomi tradisional dari pernikahan, terutama di kalangan kelompok berpenghasilan rendah, dengan latar belakang menurunnya prospek pekerjaan bagi pria berpenghasilan rendah dan meningkatnya kesempatan kerja bagi wanita.
The Bigger Picture
Penurunan angka pernikahan berdampak signifikan terhadap individu, keluarga, dan masyarakat. Perubahan ini memengaruhi berbagai hal, mulai dari pengasuhan anak hingga stabilitas ekonomi dalam keluarga.
Meskipun pendidikan merupakan faktor penting, perubahan budaya, sosial, ekonomi, dan teknologi lainnya juga berperan.
"Banyak orang menghargai institusi pernikahan karena kepentingannya sendiri, sementara yang lain menganggapnya penting berdasarkan nilai-nilai agama, budaya, dan sosial," tambah Winters. "Secara ekonomi, pernikahan memiliki konsekuensi penting bagi anak-anak, termasuk jumlah anggota keluarga dan sumber daya yang dapat mereka investasikan untuk anak-anak tersebut."
Wilayah yang belum dipetakan, seperti pengaruh teknologi pintar dan media sosial terhadap perilaku sosial dan tingkat pernikahan, menghadirkan area potensial untuk penelitian masa depan.
"Kita lebih banyak tinggal di rumah, lebih jarang keluar rumah, dan semakin terpecah belah β semua ini dapat membuat orang cenderung tidak menikah," tambah Winters. "Peluang untuk penelitian di masa mendatang terkait tingkat pernikahan akan terus berkembang bersama kami."
Sumber: Iowa State University
